Rabu, 30 Januari 2013
AMALAN YANG PAHALANYA TERUS MENGALIR
AMALAN YANG PAHALANYA TERUS MENGALIR
Bismillahirrahmannirahim,
AMAL JARIYAH adalah sebutan bagi amalan yang terus mengalir pahalanya,
walaupun orang yang melakukan amalan tersebut sudah wafat. Amalan
tersebut terus memproduksi pahala ya
ng terus mengalir kepadanya.
Dari Abu Hurairah menerangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Apabila anak Adam (manusia) wafat, maka terputuslah semua (pahala)
amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, yaitu sedekah jariah,
ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya" (HR. Muslim).
Selain dari ketiga jenis perbuatan di atas, ada lagi beberapa macam perbuatan yang tergolong dalam amal jariah.
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya diantara
amal kebaikan yang mendatangkan pahala setelah orang yang melakukannya
wafat ialah ilmu yang disebarluaskannya, anak saleh yang
ditinggalkannya, mushaf (kitab-kitab keagamaan) yang diwariskannya,
masjid yang dibangunnya, rumah yang dibangunnya untuk penginapan orang
yang sedang dalam perjalanan. sungai yang dialirkannya untuk kepentingan
orang banyak, dan harta yang disedekahkannya” (HR. Ibnu Majah).
Di dalam hadis ini disebut tujuh macam amal yang tergolong amal jariah sebagai berikut.
1. Menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, baik melalui
pendidikan formal maupun nonformal, seperti diskusi, ceramah, dakwah,
dan sebagainya. Termasuk dalam kategori ini adalah menulis buku yang
berguna dan mempublikasikannya.
2. Mendidik anak menjadi anak
yang saleh. Anak yang saleh akan selalu berbuat kebaikan di dunia.
Menurut keterangan hadis ini, kebaikan yang dipeibuat oleh anak saleh
pahalanya sampai kepada orang tua yang mendidiknya yang telah wafat
tanpa mengurangi nilai/pahala yang diterima oleh anak tadi.
3. Mewariskan mushaf (buku agama) kepada orang-orang yang dapat memanfaatkannya untuk kebaikan diri dan masyarakatnya.
4. Membangun masjid. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi SAW,
”Barangsiapa yang membangun sebuah masjid karena Allah walau sekecil apa
pun, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga” (HR.
al-Bukhari dan Muslim).
Orang yang membangun masjid tersebut akan menerima pahala seperti pahala orang yang beribadah di masjid itu.
5. Membangun rumah atau pondokan bagi orang-orang yang bepergian untuk
kebaikan. Setiap orang yang memanfaatkannya, baik untuk istirahat
sebentar maupun untuk bermalam dan kegunaan lain yang bukan untuk
maksiat, akan mengalirkan pahala kepada orang yang membangunnya.
6. Mengalirkan air secara baik dan bersih ke tampat-tempat orang yang
membutuhkannya atau menggali sumur di tempat yang sering dilalui atau
didiami orang banyak. Setelah orang yang mengalirkan air itu wafat dan
air itu tetap mengalir serta terpelihara dari kecemaran dan dimanfaatkan
orang yang hidup maka ia mendapat pahala yang terus mengalir.
Semakin banyak orang yang memanfaatkannya semakin banyak ia menerima pahala di akhirat.
Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa membangun sebuah sumur lalu
diminum oleh makhluk atau burung yang kehausan, maka Allah akan
memberinya pahala kelak di hari kiamat.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu
Majah).
7. Menyedekahkan sebagian harta. Sedekah yang diberikan secara ikhlas akan mendatangkan pahala yang berlipat ganda.
Semoga Bermanfaat
Diposting oleh
Unknown
di
04.38
0
komentar
Label: Agama
KB.. 2
Golongan yang tidak setuju dengan konsep KB menyatakan bahwa
anak-anak adalah rahmat dari Allah; dan persetubuhan antara suami istri
(yang salah satu maksudnya adalah untuk menghasilkan keturunan) adalah
halal; oleh itu “mencegah” pembuahan adalah perbuatan yang melarang
sesuatu yang telah diizinkan oleh Allah. Pernyataan dikemukakan oleh
Maulana Maududi[1], yang menurutnya berdasarkan dari interpretasi surat al-An’am ayat 140.
Perdebatan pun berlanjut, dengan sanggahan dari yang pro dengan KB.
Mereka menyanggah bahwa interpretasi Maulana Maududi bias dan pernyataan
Maududi terkesan dipaksakan dan berusaha keras untuk mencegah praktek
KB di kalangan muslim.
Dalam argumen lain, pihak yang pro KB mengemukakan surat al Baqarah ayat 233.
Mereka menginterpretasikan bahwa ayat ini menggalakkan perencanaan
(jeda waktu antara kehamilan). Ayat lain yang hampir sama ada dalam
surat Luqman ayat 14, dan surat Ahqaf ayat 15. Selain itu,
dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW tidak menggalakkan wanita untuk
hamil lagi dalam masa menyusui, atau disebut al-ghayl, ghaylah, gheyal
(suatu hal yang tidak baik untuk si bayi).
Pertanyaannya sekarang
adalah bagaimana pasangan dapat menghindari kehamilan dalam masa dua
tahun interval setelah kelahiran seorang anak? Mereka mungkin bisa puasa
dari seks, yang pastinya sangat susah dilakukan untuk pernikahan
monogami. Alternatifnya adalah melakukan al azl atau metode lain
untuk mencegah kehamilan. Menanggapi hal ini, Syeikh Shaltout yang
pernah menjadi Imam Besar Al Azhar menyatakan bahwa nampaknya prinsip
untuk memberikan jeda kelahiran anak mendapatkan dukungan dari al
Qur’an. Dalam fatwanya, ia mengatakan, “KB dalam kaitannya dengan ini
bukanlah sesuatu yang melawan fitrah, dan bukanlah sesuatu yang melawan
syariah -jika tidak disebutkan dalam al Qur’an. Al Qur’an menetapkan
masa menyusui selama dua tahun penuh, dan nabi Muhammad SAW
memperingatkan agar tidak menyusui bayi dari ibu yang sedang mengandung.
Hal ini menunjukkan diperbolehkannya langkah untuk mencegah kehamilan
dalam masa menyusui.”
Faktor jumlah anak telah menjadi kunci
perdebatan antara golongan yang pro dan kontra KB. Ada anggapan bahwa
jumlah dan pertumbuhan yang lebih besar akan menjamin kekuatan yang
lebih besar dan lebih dekat dengan ridha-Nya. Lebih lanjut, golongan
yang kontra dengan KB menganggap bahwa KB sebenarnya berasal dari budaya
Barat, dan mereka berkonspirasi untuk mengurangi jumlah Muslim dengan
mempromosikan KB. Lain pula dengan pendapat yang mendukung KB, mereka
percaya bahwa masa depan Muslim saat ini harusnya lebih ditumpukan
kepada kualitas individu, kualitas keimanan dan solidaritas daripada
nominal jumlah. Golongan ini tidak percaya bahwa dunia Islam akan
kekurangan orang; mereka lebih melihat kepada pentingnya solidaritas,
kerjasama antara negara-negara Muslim, demi peningkatan spiritual, sosio
ekonomi, dan kemajuan teknologi. Lebih jauh lagi, mereka melihat bahwa
pertumbuhan penduduk yang begitu cepat di negara-negara Muslim merupakan
hambatan yang serius dalam proses pembangunan menuju umat yang lebih
baik. Dalam hal ini, bisa diambil contoh kasus Presiden Mesir Gamal
Abdul Nasser yang begitu keras menentang program perencanaan populasi
dalam 10 tahun pertama kepemimpinannya. Tapi kemudian, ia menyadari
bahwa pertambahan populasi yang tidak terkontrol memberikan efek yang
serius pada Mesir, ia menyatakan:
“Pertambahan populasi
memberikan hambatan yang sangat serius pada langkah Mesir untuk
meningkatkan standar produksi dengan cara yang efektif dan efisien.
Konsep KB merupakan usaha mendesak yang perlu didukung oleh metode
saintifik modern.”
Berikut pendapat golongan yang mendukung bahwa jumlah umat adalah penting:
- Manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi seperti disebutkan dalam surat al Baqarah ayat 30; serta surat Hud ayat 61, “Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya.” Sebagai pemakmur, maka jumlah yang berlipat ganda akan membawa keuntungan dan kemakmuran yang besar sebagaimana disebutkan dalam surat an Nisa ayat 1.
- Menghasilkan keturunan. Berdasarkan poin sebelumnya, menghasilkan keturunan adalah cara paling alami untuk melipatgandakan jumlah umat Muslim. Mereka menjadikan surat an Nahl ayat 72, surat ar-Ra’d ayat 38, surat al A’raf ayat 86, dan surat al Furqan ayat 74 sebagai pendukung argumen ini.
- Sebagai dukungan, golongan ini juga mengangkat sebuah hadits yang mereka interpretasikan sebagai anjuran Nabi Muhammad SAW untuk melipatgandakan jumlah umat Muslim;
- “Menikahlah kamu agar
dapat melahirkan keturunan. Sesungguhnya saya akan berbangga pada hari
kiamat jika kamu menjadi umat yang teramai (daripada umat-umat lain)”. (HR. Al-Baihaqi)
- ”Nikahilah
wanita yang penyayang dan banyak anak, karena aku berlomba-lomba banyak
umat dengan kamu bersama Nabi-Nabi pada hari kiamat”. (H.R Ahmad dan disahkan oleh Ibnu Hibban).
- Jumlah umat yang banyak merupakan sumber kekuatan dan pembangunan umat.
- KB sebagai konspirasi Barat untuk melemahkan Islam.
- KB tidak lain sebagai bentuk ketidakpercayaan Muslim terhadap Allah.
Dan golongan yang pro perencanaan keluarga menjawab argumen di atas yang intinya ada dua poin berikut:
(i)
Jumlah yang berlipat ganda bisa dicapai dengan jumlah anak yang sedikit
tetapi diberi jeda yang sepatutnya dan dilahirkan dari ibu yang tidak
terlalu muda, tidak terlalu tua.
(ii) Kualitas Muslim tidak
selalunya berkaitan dengan nominal jumlah. Jumlah yang besar tetapi
lemah; umat Muslim yang miskin serta terpecah-pecah dengan berbagai
kompleksitasnya, penyakit menular, kemiskinan, buta huruf dan lemah iman
bukanlah suatu kebanggaan bagi Nabi Muhammad SAW pada hari Kiamat
nanti.
Selanjutnya pihak pro KB menjawab satu per satu argumen dari golongan yang kontra KB:
1. Memang benar bahwa manusia adalah khalifah Allah di muka bumi, tetapi kemudian mereka menambahkan surat Adz-Dzaariya ayat 56.
Menurut mereka surat ini menekankan bahwa tujuan utama penciptaan
manusia bertumpu pada kewajibannya di muka bumi. Seorang Muslim dalam
hal ini seharusnya mempunyai kapasitas yang baik secara fisik,
spiritual, sosial dan intelektual untuk meninggikan asma Allah di muka
bumi. Pada awal masa Islam, jumlah berlipat ganda tidak begitu
dipertanyakan karena pada masa-masa itu begitu banyak penyakit menular,
bencana dan perang. Sedangkan pada masa sekarang, jumlah yang berlipat
ganda memang diperlukan tetapi tidak seharusnya dalam jumlah yang sangat
besar. Umat Muslim dalam jumlah besar, tetapi tidak mampu membesarkan
anak-anak mereka di jalan Islam, tidak mampu “mewakili” agama Allah
dengan cara yang benar, mempertahankan negeri serta tempat-tempat suci
mereka, tidak mampu menjaga kesehatan, kemampuan baca tulis – umat yang
seperti ini bukanlah umat yang sesuai dengan apa yang diutarakan dalam
kitab Allah. Lebih lanjut lagi, Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadits
dari Tsauban menyebutkan, “Rasulullah Saw bersabda: “Suatu masa nanti,
bangsa-bangsa akan memperebutkan kalian seperti orang-orang yang sedang
makan yang memperebutkan makanan di atas nampan”. Kemudian ada sahabat
yang bertanya: “Apakah saat itu kita (kaum Muslimin) berjumlah
sedikit [sehingga bisa mengalami kondisi seperti itu]?”. Rasulullah Saw
menjawab: “Sebaliknya, jumlah kalian saat itu banyak, namun kalian
hanyalah bak buih di atas air bah [yang dengan mudah dihanyutkan ke sana
ke mari]. Dan Allah SWT akan mencabut rasa takut dari dalam diri
musuh-musuh kalian terhadap kalian, sementara Dia meletakkan penyakit
wahn dalam hati kalian.” Ada sahabat yang bertanya lagi: “Wahai
Rasulullah Saw, apakah wahn itu?” beliau menjawab: “Cinta dunia dan
takut mati.”
Oleh karena itu, golongan yang pro KB menekankan
bahwa berlipat ganda dalam kualitas lebih baik daripada berlipat ganda
dalam kuantitas. Para ahli demografi Muslim, dokter, ahli sosial, dan
ahli pembangunan telah mengingatkan bahwa pertumbuhan penduduk yang
sangat cepat di negara-negara berpenduduk Muslim merupakan hambatan bagi
perkembangan spiritual, sosial, ekonomi dan teknologi.[2] Ayat Qur’an yang mereka gunakan untuk mendukung argumen ini ialah pada surat al Maidah ayat 100, surat al Baqarah ayat 249, dan surat at Tawba ayat 25.
2.
Pembuahan merupakan jalan untuk mendapatkan keturunan; para Nabi dalam
sejarahnya hampir selalu memohon kepada Allah, anak-anak yang baik dan
pastinya bukan anak-anak nakal. Seperti yang tertuang pada surat al Baqarah ayat 266. Al Qur’an dalam surat al Mu’minuun ayat 55-56 juga “menanyakan” tentang kepentingan mempunyai anak dalam jumlah besar.
3.
Kalangan yang pro KB menambahkan sebuah hadits shahih dari al Hakim,
Abdullah Ibn Omar yang menyebutkan, “Tidak ada cobaan yang paling
meletihkan daripada mempunyai banyak anak yang tidak begitu berarti.”
Selain itu Ibnu Abbas juga meriwayatkan bahwa mempunyai anak dalam
jumlah besar hanya akan mendatangkan kesusahan. “Banyak anak adalah
salah satu dari dua kemiskinan, sedangkan sedikit anak adalah salah satu
dari kemudahan.” (Qudaeei dalam Musnad al Shahab). Selain itu,
berhubungan dengan surat an Nisa ayat 3, Imam Syafi’i yang ahli bahasa Arab memberikan interpretasi bahwa ayat ini secara implisit tidak mendukung adanya banyak anak.
Jika
kita amati kondisi global saat ini, maka sebenarnya Islam tidak hanya
memerlukan nominal jumlah yang berlipat ganda, tetapi lebih memerlukan
yang “berlipat ganda” dalam kaitannya dengan moral tinggi, keunggulan
ilmiah, kewibawaan dalam politik untuk mencegah ideologi musuh. Selain
itu perlu juga untuk “berlipat ganda” dalam penghasilan daripada
konsumsi, untuk meminimalkan utang global; “berlipat ganda” yang
terkoordinasi dan bukan terpecah-pecah.
Bagaimana dengan pendapat Anda sendiri mengenai KB?
edited by. anna see bakpao
Diposting oleh
Unknown
di
04.17
0
komentar
Label: FEMALE
KB.. 1
Allah telah mengangkat Nabi Muhammad SAW sebagai
Nabi Penutup yang membawa Islam sebagai rahmat bagi seluruh manusia. IA
dengan segala kebesaran Nya tentu saja sudah memperhitungkan bahwa
sebagai agama penutup, Islam “dirancang” untuk mempunyai sifat paling
sempurna dan menyempurnakan. Kesempurnaan agama ini salah satunya
tercermin dari sistem hukumnya yang komprehensif. Sistem hukum Islam
mengatur segala yang berkaitan dengan aktivitas, keperluan dan
kepentingan manusia. Keluarga berencana juga merupakan salah satu
bahasan dalam hukum Islam. Keluarga berencana (KB) mempunyai pengertian
(1) memberi jeda antar kelahiran anak untuk memudahkan proses menyusui
dan untuk menjaga kesehatan ibu dan anak; (2) memilih masa yang sesuai
untuk kehamilan; (3) mengatur jumlah anak untuk disesuaikan dengan
“keperluan” keluarga, dan juga sesuai dengan kemampuan keuangan,
pendidikan dan proses membesarkan anak. (Omran, Abdel Rahim 1992)
Legalitas
KB di mata Islam telah lama menjadi perdebatan panjang, Dalam artikel
ini, penulis memaparkan pendapat dari ulama-ulama yang pro dan kontra
berdasarkan dari buku-buku karangan mereka. Para ulama, termasuk salah
satunya Imam Besar Al-Azhar, Sheikh Jadel Haq Ali Jadel Haq setuju bahwa
berdasarkan pengamatan secara komprehensif terhadap ayat-ayat Qur’an,
tidak ditemukan ayat yang secara eksplisit melarang pencegahan kehamilan
atau pembatasan jumlah anak, tetapi ada beberapa hadits yang
mengindikasikan bahwa pencegahan kehamilan diperbolehkan.
Pendapat Ulama
Imam
al Ghazali yang mengikuti mazhab Syafi’i menegaskan dalam Ihya’ Ulum al
Din bahwa ada empat klasifikasi berkaitan dengan perencanaan keluarga
antara lain: (i) diizinkan secara mutlak; (ii) diizinkan dengan syarat istri setuju, dan dilarang jika istri tidak setuju; (iii) diizinkan jika dengan budak, tetapi tidak dengan istri; (iv) dilarang secara mutlak.
Al
Ghazali kemudian mengatakan, “Cara yang benar menurut kami (mazhab
Syafi’i), pencegahan kehamilan adalah diizinkan”. Lebih jauh ia kemudian
mengemukakan alasannya antara lain: (i) memelihara kecantikan dan kesehatannya wanita; (ii) melindungi wanita dari situasi yang “menyusahkan” (dicerai); (iii)
menghindarkan diri dari kehinaan (kemelaratan) dan kepenatan fisik
sebagai konsekuensi jika mempunyai terlalu banyak anak. Ia juga
mengungkapkan bahwa ini adalah salah satu jalan untuk memelihara
keimanan.
Mazhab Hanafi mengizinkan pencegahan pembuahan dengan
syarat istri mengizinkan, tetapi kemudian para ulama dari mazhab ini
berpendapat bahwa izin istri tidak perlu dalam kondisi yang bisa
menurunkan tingkat keimanan; dalam arti kemungkinan mempunyai keturunan
yang tidak shalih. Sedangkan mazhab Maliki dan Hambali mengizinkan KB
dengan persetujuan istri.
Islam memandang satuan keluarga sebagai
suatu unit yang sakral sebagai sarana mencurahkan kasih sayang. Seperti
yang dikemukakan dalam surat al-A’Raf ayat 189. Sebuah pernikahan
membawa konsekuensi besar, antara lain membesarkan anak-anak agar
menjadi pribadi yang shalih, sehat, dan berpendidikan. Jika belum mampu
menanggung konsekuensi ini, maka pernikahan sebaiknya ditunda. Hal ini
dituangkan dalam surat an-Nuur ayat 33.
Nabi Muhammad saw juga menekankan, “Wahai
para pemuda, barang siapa di antara kamu ada yang telah sanggup
menikah, maka menikahlah, karena sesungguhnya menikah itu dapat,
menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan.”
Beberapa relevansi dari perencanaan sebuah keluarga terutama berkaitan dengan beberapa poin yaitu: (i) Faktor kesehatan terutama ibu; (ii) kapasitas ekonomi untuk mendukung berjalannya sebuah keluarga termasuk menjamin masa depan anak-anak; (iii) kapasitas kebudayaan yaitu memberikan pendidikan yang cukup bagi anak-anak, terutama pendidikan agama; (iv) ketersediaan waktu untuk merawat anak-anak termasuk merangsang pertumbuhan intelektualnya; (v) dukungan komunitas sekitar termasuk sekolahan, sarana kesehatan, perumahan yang layak.
Islam Sebagai “Agama Berencana”
Jika
kita amati, ayat-ayat Qur’an sering kali menekankan bahwa semua yang
ada di bumi ini diciptakan dengan sebuah urutan perencanaan.
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Al Qamar 54: 49)
Muslim juga dianjurkan untuk merenungi hakikat ciptaan-Nya. “… dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.” (Ali Imran 3:19)
Salah satu ayat “perencanaan” tercermin dalam surat Yasin ayat 40. “Tidaklah
mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam-pun tidak dapat
mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.”
Keteraturan penciptaan alam ini merupakan salah satu bentuk kewujudan Allah swt, sebagaimana dikatakan dalam surat al Mulk ayat 1-3.
Bentuk
lain dari perencanaan dalam Islam adalah perintah untuk melaksanakan
shalat lima waktu. Ya, kita sebagai Muslim diperintahkan untuk shalat
lima waktu, bukankah ini suatu bentuk “perencanaan” dan keteraturan
dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika kita berangkat tidur malam, kita
pasti akan “berencana” untuk melaksanakan shalat Subuh pada keesokan
pagi, dan saat kita tengah di Subuh hari, kita akan berencana untuk
melaksanakan shalat Zhuhur pada siang harinya, begitu seterusnya.
Kita
juga dapat merenungi kisah Nabi Yusuf AS Sebagai Nabi Allah,
perencanaannya saat itu adalah membuat persiapan pada tujuh tahun
pertama untuk menghadapi kekeringan dan paceklik pada tujuh tahun
berikutnya. Dan nabi Yusuf AS berkata, “Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku.” (Yusuf
12:37). Salah satu cermin pentingnya perencanaan dari Nabi Muhammad SAW
adalah saat beliau menyimpan hasil bumi dari tanah Khaibar selama satu
tahun sebagai cadangan untuk kepentingan masa berikutnya, seperti yang
diberitakan oleh Imam Zabidi.
Keluarga Berencana Dalam Pandangan Islam
Dua sumber fundamental hukum Islam adalah syariah dan fiqih. Syariah dalam bahasa Arab diartikan sebagai “jalan yang diikuti”.
“Kemudian
Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan
(agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa
nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (Al Jaatsiyah 45:18)
Sedangkan
fiqih adalah ilmu dari syariah. Secara harfiah diartikan sebagai,
pemahaman, pandangan, atau kemampuan untuk memahami dan mendapatkan ilmu
dari syariah.
Dalam kaitannya dengan perencanaan keluarga, Syaikh
Yusuf al-Qaradhawi menulis sebuah artikel yang sangat berpengaruh pada
tahun 1985. Ia menulis sebuah hadits shahih yang diriwayatkan yang
disampaikan oleh Jabir Ibn Abdullah:
“Kami biasa melakukan
pencegahan kehamilan (al azl atau dalam bahasa Inggris -coitus
interruptus-), bersamaan dengan jangka masa diturunkannya al Qur’an.
Jika memang praktik ini dilarang, pastilah al Qur’an akan menyebutkan
pelarangannya. (HR Muslim)
Selanjutnya menurut
syeikh Qaradhawi, oleh karena itu Jabir menganggap bahwa jika Qur’an
“diam” berkaitan tentang sesuatu hal, maka itu pertanda bahwa praktik
ini “diizinkan”.
Sebagai Muslim, kita sebaiknya tidak memahami
hukum Islam secara sempit, karena zaman terus berubah. Tetapi ini bukan
berarti kita mentolelir hal-hal mendasar yang telah ditetapkan oleh
Qur’an, seperti pelarangan mencuri, larangan makan daging babi dsb.
Kemampuan
“penyesuaian diri” hukum Islam terhadap perubahan zaman diutarakan
dengan jelas oleh ulama abad ke-19 Ibn Abdin (mazhab Hanafi), “Banyak
hukum yang berbeda dalam rentang waktu yang berbeda, karena adat,
kebiasaan masyarakat dan kebutuhan yang berubah. Sangat jelas, jika
pemahaman akan hukum “tidak beradaptasi”, maka kesusahan akan melanda
manusia, yang pada akhirnya akan melanggar prinsip hukum Islam itu
sendiri yang menganjurkan untuk meringankan beban manusia dan
menghindari hal yang memberatkan.” [1]
Sama halnya dengan pendapat Ibn Abdin, ulama dari mazhab Maliki, al Qurafi, juga menyatakan, “Pemahaman
akan hukum Islam secara sempit dan kaku hanya akan mendorong seorang
Muslim semakin jauh dari jalan-Nya, yang kemudian akan menjadikannya
seorang yang bodoh, tidak paham dan tidak mampu meneladani sikap-sikap
ulama terdahulu.”[2]
Aplikasi
KB dalam pandangan hukum Islam yang “telah disesuaikan” diutarakan oleh
ulama Al Azhar, Sheikh al-Sharabassi pada tahun (1974). Ia menyatakan, “Hukum
Islam berurusan dengan sesuatu yang berubah, baik itu perubahan kondisi
manusia atau waktu dan tempat; hukum ini tidak meletakkan sesuatu yang
berubah pada posisi yang pasti, kaku dan sempit dengan formula yang
serba pasti, melainkan menyerahkan opini dan pemahaman kepada komunitas
ulama yang dibatasi dengan kerangka hukum Islam.”
Dalam
kaitannya dengan perencanaan keluarga, tidak ada satu pun ayat dalam
Qur’an yang secara lugas melarang perencanaan kehamilan. Menurut para
ahli fiqih, “diamnya” Al Qur’an bukan berarti bahwa Allah mengabaikan
hal ini karena Ia Maha Tahu. Mereka menganggap bahwa diamnya Al Qur’an
dalam hal ini merupakan pertanda bahwa pengaturan kelahiran anak
bukanlah suatu yang terlarang.
Tidak ada yang salah jika terjadi
pro dan kontra dalam keluarga berencana, tetapi yang menjadi masalah
adalah bahwa beberapa orang terkadang memulai argumen dengan pendapat
dan prasangka yang dicari-cari dari al Qur’an. Dan jika mereka tidak
menemukan sesuatu dalam al Qur’an yang mampu mendukung opini mereka,
mereka akan melebih-lebihkan makna dari ayat-ayat al Qur’an yang mereka
anggap dapat mendukung pendapat mereka. Metoda yang benar adalah memulai
sesuatu dengan Qur’an, dan mencari dukungan dari tafsir juga Sunah, dan
kemudian membentuk opini.
Keluarga Berencana Sebagai Bagian Dari “Pembunuhan”
Hampir semua yang menentang konsep KB menganggap bahwa al-azl atau semua praktek yang dimaksudkan untuk mencegah kehamilan sama dengan pembunuhan, sesuatu yang dilarang keras oleh Qur’an.[3] Argumen mereka berdasarkan ayat,
“… dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan.” (Al An’am: 151)
Dan mereka yang khawatir menjadi miskin dengan kehadiran anak, Allah memperingatkan,
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan.” (Al Israa’: 31)
Selain itu, surat at Takwiir ayat 8-9 dan surat al-Mumtahana ayat 12 termasuk digunakan sebagai argumen oleh pihak penentang KB. Walaupun begitu, pihak penentang KB mengakui
bahwa cuplikan ayat-ayat di atas merupakan sebuah larangan yang tidak
langsung dan tidak ada ayat yang secara eksplisit menyatakan
larangannya.[4]
Di
lain pihak, pendukung KB menganggap bahwa perencanaan kehamilan dengan
kontrasepsi hanyalah langkah pencegah kehamilan, dan tidak ada kaitannya
dengan pembunuhan.[5]
Dalam argumennya, pihak pendukung ini mengutarakan sejarah Imam Ali RA
beserta khalifah Umar bin Khattab dan beberapa sahabat lainnya yang
menolak bahwa pencegahan kehamilan (al azl) adalah bagian dari pembunuhan (wa’d).
Imam Ali RA menganggap bahwa pembunuhan terhadap bayi (wa’d) hanya
terjadi jika janin mencapai lapisan ke tujuh, ia menyatakan demikian
berdasarkan surat al-Mu’minuun ayat 12, 13, 14. Pada saat itu
khalifah Umar setuju dan memuji interpretasi Ali RA. Bagaimanapun,
sejarah ini berdasarkan hadits Judama yang beberapa ulama menganggapnya
sebagai hadits lemah.
Qadar, Rezeki Dan Tawakkal
Golongan
kontra menganggap bahwa perencanaan keluarga melalui pengaturan
kehamilan merupakan tindakan yang melawan ketetapan-Nya, dan suatu bukti
“ketidakpercayaan” kepada Allah untuk menjamin kebutuhan anak. Mereka
mengutarakan beberapa ayat al Qur’an untuk mendukung argumennya.
Qadar
“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (At Takwiir: 29)
“Aku
tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak
kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku
mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya
dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan.” (Al A’raf: 188)
Rezeki
“Dan tidak ada suatu binatang melata [709] pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya.” (Huud: 6)
Oleh karena itu, Allah pasti akan menjamin seluruh kebutuhan makhluk-Nya termasuk anak-anak.
Tawakkal
Sebagai
muslim, sudah seharusnya kita menyandarkan segala keperluan hidup kita
kepada Allah, termasuk semua hal yang berkaitan dengan anak-anak. Hal
ini jelas tercantum dalam al Qur’an termasuk surat al-Mumtahana ayat 4
dan surat ath-Thalaaq ayat 2-3.
Anak sebagai “Harta”
Golongan penentang KB menganggap bahwa anak adalah harta tak ternilai seperti yang disebutkan dalam al Qur’an.
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” (Al Kahfi: 46) dan juga yang tercantum dalam surat al Furqaan ayat 74, serta permohonan Nabi Zakaria AS yang tertuang dalam surat ali Imran ayat 38.
Golongan
yang pro dengan konsep KB menjawab bahwa anak memang merupakan aset
berharga yang tak ternilai dan juga sebagai penerus keturunan, tetapi
ini tidak selalu berarti harus anak dalam jumlah yang banyak, yang bisa
jadi “terlantar” dan kurang perhatian sehingga pendidikan agama pun
kurang. Mereka mengemukakan ayat di bawah ini sebagai landasan
argumennya.
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan
dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik
pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Al Kahfi: 46)
Dari
ayat 46 surat al Kahfi ini, menurut pendukung KB, mempunyai banyak anak
dan harta tidak seharusnya selalu “menyenangkan” Allah, tetapi kualitas
dari manusia itu sendiri yang lebih terpuji di hadapan Allah.
Sebagaimana disebutkan juga oleh surat Saba ayat 37. Selanjutnya Qur’an juga mengingatkan bahwa anak-anak dan harta bisa menjadi sumber fitnah, seperti yang disebutkan surat al Anfal ayat 28.
Golongan pendukung KB juga mengangkat surat 37 ayat 100
tentang doa nabi Zakaria AS. Ia lebih “memilih” berdoa agar dianugerahi
anak yang baik dan bukan berdoa untuk mempunyai banyak anak. Jika kita
melihat keadaan sekitar kita dengan segala kompleksitasnya, mau tidak
mau harus kita akui bahwa mendidik anak untuk menjadi manusia yang baik,
dan mampu membela agamanya bukanlah sesuatu yang mudah.
edited: http://annaseebakpao.blogspot.com/
Diposting oleh
Unknown
di
04.10
0
komentar
Label: FEMALE
Selasa, 22 Januari 2013
klasifikasi tanaman
sedikit tugas mingguan ini dari sang ibu dosen tercinta,,,
dapatkan disini yaaa..
semoga bermanfaat....
dapatkan disini yaaa..
semoga bermanfaat....
Diposting oleh
Unknown
di
01.34
0
komentar
Label: AGRYCULTURE
Senin, 31 Desember 2012
** TAHUN BARU 2013**
Sedikit berbagi untuk semua sahabatku,,,
semoga diathun yang baru,, kehidupan kita semua semakin baik dan sempeurna di mata ALLAH...
sManusia di berbagai negeri sangat antusias menyambut perhelatan yang hanya setahun sekali ini. Hingga walaupun sampai lembur pun, mereka dengan rela dan sabar menunggu pergantian tahun. Namun bagaimanakah pandangan Islam -agama yang hanif- mengenai perayaan tersebut? Apakah mengikuti dan merayakannya diperbolehkan? Simak dalam bahasan singkat berikut.
Sejarah Tahun Baru Masehi
Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.
Dari sini kita dapat menyaksikan bahwa perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam. Perayaan tahun baru terjadi pada pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.
Secara lebih rinci, berikut adalah beberapa kerusakan yang terjadi seputar perayaan tahun baru masehi.
Kerusakan Pertama: Merayakan Tahun Baru Berarti Merayakan 'Ied (Perayaan) yang Haram
Perlu diketahui bahwa perayaan ('ied) kaum muslimin hanya ada dua yaitu 'Idul Fithri dan 'Idul Adha. Anas bin Malik mengatakan, “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, “Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha”.
Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah menjelaskan bahwa perayaan tahun baru itu termasuk merayakan ‘ied (hari raya) yang tidak disyariatkan karena hari raya kaum muslimin hanya ada dua yaitu Idul Fithri dan Idul Adha. Menentukan suatu hari menjadi perayaan (‘ied) adalah bagian dari syari’at (sehingga butuh dalil).
Kerusakan Kedua: Merayakan Tahun Baru Berarti Tasyabbuh (Meniru-niru) Orang Kafir
Merayakan tahun baru termasuk meniru-niru orang kafir. Dan sejak dulu Nabi kita shallallahu 'alaihi wa sallam sudah mewanti-wanti bahwa umat ini memang akan mengikuti jejak orang Persia, Romawi, Yahudi dan Nashrani. Kaum muslimin mengikuti mereka baik dalam berpakaian atau pun berhari raya.
Dari Abu Sa'id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob, pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?”
Lihatlah apa yang dikatakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Apa yang beliau katakan benar-benar nyata saat ini. Berbagai model pakaian orang barat diikuti oleh kaum muslimin, sampai pun yang setengah telanjang. Begitu pula berbagai perayaan pun diikuti, termasuk pula perayaan tahun baru ini.
Ingatlah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir. Beliau bersabda, ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”
Kerusakan Ketiga: Merekayasa Amalan yang Tanpa Tuntunan di Malam Tahun Baru
Kita sudah ketahui bahwa perayaan tahun baru ini berasal dari orang kafir dan merupakan tradisi mereka. Namun sayangnya di antara orang-orang jahil ada yang mensyari'atkan amalan-amalan tertentu pada malam pergantian tahun.
“Daripada waktu kaum muslimin sia-sia, mending malam tahun baru kita isi dengan dzikir berjama'ah di masjid. Itu tentu lebih manfaat daripada menunggu pergantian tahun tanpa ada manfaatnya”, demikian ungkapan sebagian orang. Ini sungguh aneh. Pensyariatan semacam ini berarti melakukan suatu amalan yang tanpa tuntunan. Perayaan tahun baru sendiri adalah bukan perayaan atau ritual kaum muslimin, lantas kenapa harus disyari'atkan amalan tertentu ketika itu? Apalagi menunggu pergantian tahun pun akan mengakibatkan meninggalkan berbagai kewajiban sebagaimana nanti akan kami utarakan.
Jika ada yang mengatakan, “Daripada menunggu tahun baru diisi dengan hal yang tidak bermanfaat (bermain petasan dan lainnya), mending diisi dengan dzikir. Yang penting kan niat kita baik.” Maka cukup kami sanggah niat baik semacam ini dengan perkataan Ibnu Mas’ud ketika dia melihat orang-orang yang berdzikir, namun tidak sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang melakukan dzikir yang tidak ada tuntunannya ini mengatakan pada Ibnu Mas’ud, ”Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.” Ibnu Mas’ud lantas berkata, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya.”
Jadi dalam melakukan suatu amalan, niat baik semata tidaklah cukup. Kita harus juga mengikuti contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baru amalan tersebut bisa diterima di sisi Allah.
Kerusakan Keempat: Mengucapkan Selamat Tahun Baru yang Jelas Bukan Ajaran Islam
Komisi Fatwa Saudi Arabia, Al Lajnah Ad Daimah ditanya, “Apakah boleh mengucapkan selamat tahun baru Masehi pada non muslim, atau selamat tahun baru Hijriyah atau selamat Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? ” Al Lajnah Ad Daimah menjawab, “Tidak boleh mengucapkan selamat pada perayaan semacam itu karena perayaan tersebut adalah perayaan yang tidak masyru’ (tidak disyari’atkan dalam Islam).”
Kerusakan Kelima: Meninggalkan Shalat Lima Waktu
Betapa banyak kita saksikan, karena begadang semalam suntuk untuk menunggu detik-detik pergantian tahun, bahkan begadang seperti ini diteruskan lagi hingga jam 1, jam 2 malam atau bahkan hingga pagi hari, kebanyakan orang yang begadang seperti ini luput dari shalat Shubuh yang kita sudah sepakat tentang wajibnya. Di antara mereka ada yang tidak mengerjakan shalat Shubuh sama sekali karena sudah kelelahan di pagi hari. Akhirnya, mereka tidur hingga pertengahan siang dan berlalulah kewajiban tadi tanpa ditunaikan sama sekali. Na’udzu billahi min dzalik. Ketahuilah bahwa meninggalkan satu saja dari shalat lima waktu bukanlah perkara sepele. Bahkan meningalkannya para ulama sepakat bahwa itu termasuk dosa besar. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengancam dengan kekafiran bagi orang yang sengaja meninggalkan shalat lima waktu. Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata, ”Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” Oleh karenanya, seorang muslim tidak sepantasnya merayakan tahun baru sehingga membuat dirinya terjerumus dalam dosa besar.
Kerusakan Keenam: Begadang Tanpa Ada Hajat
Begadang tanpa ada kepentingan yang syar'i dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk di sini adalah menunggu detik-detik pergantian tahun yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat 'Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.”
Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat 'Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama'ah. 'Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!” Apalagi dengan begadang ini sampai melalaikan dari sesuatu yang lebih wajib (yaitu shalat Shubuh)?!
Kerusakan Ketujuh: Terjerumus dalam Zina
Jika kita lihat pada tingkah laku muda-mudi saat ini, perayaan tahun baru pada mereka tidaklah lepas dari ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita) dan berkholwat (berdua-duan), bahkan mungkin lebih parah dari itu yaitu sampai terjerumus dalam zina dengan kemaluan. Inilah yang sering terjadi di malam tersebut dengan menerjang berbagai larangan Allah dalam bergaul dengan lawan jenis. Inilah yang terjadi di malam pergantian tahun dan ini riil terjadi di kalangan muda-mudi.
Kerusakan Kedelapan: Mengganggu Kaum Muslimin
Merayakan tahun baru banyak diramaikan dengan suara mercon, petasan, terompet atau suara bising lainnya. Ketahuilah ini semua adalah suatu kemungkaran karena mengganggu muslim lainnya, bahkan sangat mengganggu orang-orang yang butuh istirahat seperti orang yang lagi sakit. Padahal mengganggu muslim lainnya adalah terlarang sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.”
Ibnu Baththol mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits ini adalah dorongan agar seorang muslim tidak menyakiti kaum muslimin lainnya dengan lisan, tangan dan seluruh bentuk menyakiti lainnya. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun itu hanya menyakiti seekor semut”.” Perhatikanlah perkataan yang sangat bagus dari Al Hasan Al Basri. Seekor semut yang kecil saja dilarang disakiti, lantas bagaimana dengan manusia yang punya akal dan perasaan disakiti dengan suara bising atau mungkin lebih dari itu?!
Kerusakan Kesembilan: Melakukan Pemborosan yang Meniru Perbuatan Setan
Perayaan malam tahun baru adalah pemborosan besar-besaran hanya dalam waktu satu malam. Jika kita perkirakan setiap orang menghabiskan uang pada malam tahun baru sebesar Rp.1000 untuk membeli mercon dan segala hal yang memeriahkan perayaan tersebut, lalu yang merayakan tahun baru sekitar 10 juta penduduk Indonesia, maka hitunglah berapa jumlah uang yang dihambur-hamburkan dalam waktu semalam? Itu baru perkiraan setiap orang menghabiskan Rp. 1000, bagaimana jika lebih dari itu?! Padahal Allah Ta’ala telah berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27).
Kerusakan Kesepuluh: Menyia-nyiakan Waktu yang Begitu Berharga
Merayakan tahun baru termasuk membuang-buang waktu. Padahal waktu sangatlah kita butuhkan untuk hal yang manfaat dan bukan untuk hal yang sia-sia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi nasehat mengenai tanda kebaikan Islam seseorang, “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”
Seharusnya seseorang bersyukur kepada Allah dengan nikmat waktu yang telah Dia berikan. Mensyukuri nikmat waktu bukanlah dengan merayakan tahun baru. Namun mensyukuri nikmat waktu adalah dengan melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah, bukan dengan menerjang larangan Allah. Itulah hakekat syukur yang sebenarnya. Orang-orang yang menyia-nyiakan nikmat waktu seperti inilah yang Allah cela. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?” (QS. Fathir: 37). Qotadah mengatakan, “Beramallah karena umur yang panjang itu akan sebagai dalil yang bisa menjatuhkanmu. Marilah kita berlindung kepada Allah dari menyia-nyiakan umur yang panjang untuk hal yang sia-sia.” Wallahu walliyut taufiq.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Edit new by : http://www.facebook.com/anna.seebakpaoo
Artikel www.remajaislam.com
sManusia di berbagai negeri sangat antusias menyambut perhelatan yang hanya setahun sekali ini. Hingga walaupun sampai lembur pun, mereka dengan rela dan sabar menunggu pergantian tahun. Namun bagaimanakah pandangan Islam -agama yang hanif- mengenai perayaan tersebut? Apakah mengikuti dan merayakannya diperbolehkan? Simak dalam bahasan singkat berikut.
Sejarah Tahun Baru Masehi
Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.
Dari sini kita dapat menyaksikan bahwa perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam. Perayaan tahun baru terjadi pada pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.
Secara lebih rinci, berikut adalah beberapa kerusakan yang terjadi seputar perayaan tahun baru masehi.
Kerusakan Pertama: Merayakan Tahun Baru Berarti Merayakan 'Ied (Perayaan) yang Haram
Perlu diketahui bahwa perayaan ('ied) kaum muslimin hanya ada dua yaitu 'Idul Fithri dan 'Idul Adha. Anas bin Malik mengatakan, “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, “Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha”.
Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah menjelaskan bahwa perayaan tahun baru itu termasuk merayakan ‘ied (hari raya) yang tidak disyariatkan karena hari raya kaum muslimin hanya ada dua yaitu Idul Fithri dan Idul Adha. Menentukan suatu hari menjadi perayaan (‘ied) adalah bagian dari syari’at (sehingga butuh dalil).
Kerusakan Kedua: Merayakan Tahun Baru Berarti Tasyabbuh (Meniru-niru) Orang Kafir
Merayakan tahun baru termasuk meniru-niru orang kafir. Dan sejak dulu Nabi kita shallallahu 'alaihi wa sallam sudah mewanti-wanti bahwa umat ini memang akan mengikuti jejak orang Persia, Romawi, Yahudi dan Nashrani. Kaum muslimin mengikuti mereka baik dalam berpakaian atau pun berhari raya.
Dari Abu Sa'id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob, pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?”
Lihatlah apa yang dikatakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Apa yang beliau katakan benar-benar nyata saat ini. Berbagai model pakaian orang barat diikuti oleh kaum muslimin, sampai pun yang setengah telanjang. Begitu pula berbagai perayaan pun diikuti, termasuk pula perayaan tahun baru ini.
Ingatlah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir. Beliau bersabda, ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”
Kerusakan Ketiga: Merekayasa Amalan yang Tanpa Tuntunan di Malam Tahun Baru
Kita sudah ketahui bahwa perayaan tahun baru ini berasal dari orang kafir dan merupakan tradisi mereka. Namun sayangnya di antara orang-orang jahil ada yang mensyari'atkan amalan-amalan tertentu pada malam pergantian tahun.
“Daripada waktu kaum muslimin sia-sia, mending malam tahun baru kita isi dengan dzikir berjama'ah di masjid. Itu tentu lebih manfaat daripada menunggu pergantian tahun tanpa ada manfaatnya”, demikian ungkapan sebagian orang. Ini sungguh aneh. Pensyariatan semacam ini berarti melakukan suatu amalan yang tanpa tuntunan. Perayaan tahun baru sendiri adalah bukan perayaan atau ritual kaum muslimin, lantas kenapa harus disyari'atkan amalan tertentu ketika itu? Apalagi menunggu pergantian tahun pun akan mengakibatkan meninggalkan berbagai kewajiban sebagaimana nanti akan kami utarakan.
Jika ada yang mengatakan, “Daripada menunggu tahun baru diisi dengan hal yang tidak bermanfaat (bermain petasan dan lainnya), mending diisi dengan dzikir. Yang penting kan niat kita baik.” Maka cukup kami sanggah niat baik semacam ini dengan perkataan Ibnu Mas’ud ketika dia melihat orang-orang yang berdzikir, namun tidak sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang melakukan dzikir yang tidak ada tuntunannya ini mengatakan pada Ibnu Mas’ud, ”Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.” Ibnu Mas’ud lantas berkata, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya.”
Jadi dalam melakukan suatu amalan, niat baik semata tidaklah cukup. Kita harus juga mengikuti contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baru amalan tersebut bisa diterima di sisi Allah.
Kerusakan Keempat: Mengucapkan Selamat Tahun Baru yang Jelas Bukan Ajaran Islam
Komisi Fatwa Saudi Arabia, Al Lajnah Ad Daimah ditanya, “Apakah boleh mengucapkan selamat tahun baru Masehi pada non muslim, atau selamat tahun baru Hijriyah atau selamat Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? ” Al Lajnah Ad Daimah menjawab, “Tidak boleh mengucapkan selamat pada perayaan semacam itu karena perayaan tersebut adalah perayaan yang tidak masyru’ (tidak disyari’atkan dalam Islam).”
Kerusakan Kelima: Meninggalkan Shalat Lima Waktu
Betapa banyak kita saksikan, karena begadang semalam suntuk untuk menunggu detik-detik pergantian tahun, bahkan begadang seperti ini diteruskan lagi hingga jam 1, jam 2 malam atau bahkan hingga pagi hari, kebanyakan orang yang begadang seperti ini luput dari shalat Shubuh yang kita sudah sepakat tentang wajibnya. Di antara mereka ada yang tidak mengerjakan shalat Shubuh sama sekali karena sudah kelelahan di pagi hari. Akhirnya, mereka tidur hingga pertengahan siang dan berlalulah kewajiban tadi tanpa ditunaikan sama sekali. Na’udzu billahi min dzalik. Ketahuilah bahwa meninggalkan satu saja dari shalat lima waktu bukanlah perkara sepele. Bahkan meningalkannya para ulama sepakat bahwa itu termasuk dosa besar. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengancam dengan kekafiran bagi orang yang sengaja meninggalkan shalat lima waktu. Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata, ”Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” Oleh karenanya, seorang muslim tidak sepantasnya merayakan tahun baru sehingga membuat dirinya terjerumus dalam dosa besar.
Kerusakan Keenam: Begadang Tanpa Ada Hajat
Begadang tanpa ada kepentingan yang syar'i dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk di sini adalah menunggu detik-detik pergantian tahun yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat 'Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.”
Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat 'Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama'ah. 'Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!” Apalagi dengan begadang ini sampai melalaikan dari sesuatu yang lebih wajib (yaitu shalat Shubuh)?!
Kerusakan Ketujuh: Terjerumus dalam Zina
Jika kita lihat pada tingkah laku muda-mudi saat ini, perayaan tahun baru pada mereka tidaklah lepas dari ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita) dan berkholwat (berdua-duan), bahkan mungkin lebih parah dari itu yaitu sampai terjerumus dalam zina dengan kemaluan. Inilah yang sering terjadi di malam tersebut dengan menerjang berbagai larangan Allah dalam bergaul dengan lawan jenis. Inilah yang terjadi di malam pergantian tahun dan ini riil terjadi di kalangan muda-mudi.
Kerusakan Kedelapan: Mengganggu Kaum Muslimin
Merayakan tahun baru banyak diramaikan dengan suara mercon, petasan, terompet atau suara bising lainnya. Ketahuilah ini semua adalah suatu kemungkaran karena mengganggu muslim lainnya, bahkan sangat mengganggu orang-orang yang butuh istirahat seperti orang yang lagi sakit. Padahal mengganggu muslim lainnya adalah terlarang sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.”
Ibnu Baththol mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits ini adalah dorongan agar seorang muslim tidak menyakiti kaum muslimin lainnya dengan lisan, tangan dan seluruh bentuk menyakiti lainnya. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun itu hanya menyakiti seekor semut”.” Perhatikanlah perkataan yang sangat bagus dari Al Hasan Al Basri. Seekor semut yang kecil saja dilarang disakiti, lantas bagaimana dengan manusia yang punya akal dan perasaan disakiti dengan suara bising atau mungkin lebih dari itu?!
Kerusakan Kesembilan: Melakukan Pemborosan yang Meniru Perbuatan Setan
Perayaan malam tahun baru adalah pemborosan besar-besaran hanya dalam waktu satu malam. Jika kita perkirakan setiap orang menghabiskan uang pada malam tahun baru sebesar Rp.1000 untuk membeli mercon dan segala hal yang memeriahkan perayaan tersebut, lalu yang merayakan tahun baru sekitar 10 juta penduduk Indonesia, maka hitunglah berapa jumlah uang yang dihambur-hamburkan dalam waktu semalam? Itu baru perkiraan setiap orang menghabiskan Rp. 1000, bagaimana jika lebih dari itu?! Padahal Allah Ta’ala telah berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27).
Kerusakan Kesepuluh: Menyia-nyiakan Waktu yang Begitu Berharga
Merayakan tahun baru termasuk membuang-buang waktu. Padahal waktu sangatlah kita butuhkan untuk hal yang manfaat dan bukan untuk hal yang sia-sia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi nasehat mengenai tanda kebaikan Islam seseorang, “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”
Seharusnya seseorang bersyukur kepada Allah dengan nikmat waktu yang telah Dia berikan. Mensyukuri nikmat waktu bukanlah dengan merayakan tahun baru. Namun mensyukuri nikmat waktu adalah dengan melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah, bukan dengan menerjang larangan Allah. Itulah hakekat syukur yang sebenarnya. Orang-orang yang menyia-nyiakan nikmat waktu seperti inilah yang Allah cela. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?” (QS. Fathir: 37). Qotadah mengatakan, “Beramallah karena umur yang panjang itu akan sebagai dalil yang bisa menjatuhkanmu. Marilah kita berlindung kepada Allah dari menyia-nyiakan umur yang panjang untuk hal yang sia-sia.” Wallahu walliyut taufiq.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Edit new by : http://www.facebook.com/anna.seebakpaoo
Artikel www.remajaislam.com
Diposting oleh
Unknown
di
08.12
0
komentar
Label: Agama
Kamis, 27 Desember 2012
ANATOMI DAUN
ANATOMI DAUN
Daun merupakan bagian tumbuhan yang penting dan pada umumnya tiap tumbuhan mempunyai sejumlah besar daun. Alat ini hanya terdapat pada batang saja dan tidak pernah terdapat pada bagian yang lain pada tubuh tumbuhan. Bagian batang tempat duduknya atau melekkatnya daun dinamakan buku-buku (nodus) batang, dan tempat diatas daun yang merupakan sudut antara batang dan daun dinamakan ketiak daun (axilla). Daun biasanya tipis melebar, kaya akan suatu zat warna hijau yang dinamakan klorofil, oleh karena itu, daun biasanya berwarna hijau dan menyebabkan tumbuhan atau daerah-daerah yang ditempati tumbuh-tumbuhan nampak hijau pula. Bagian tumbuh-tumbuhan ini mempunyai umur yang terbatas, akhirnya akan runtuh dan meninggalkan bekas pada batang. Pada waktu akan runtuh warna daun berubah menjadi kekuning-kuningan dan akhirnya gugur.
Daun merupakan salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari batang, umumnya berwarna hijau (mengandung klorofil) dan terutama berfungsi sebagai penangkap energi dari cahaya matahari melalui fotosintesis. Daun merupakan organ terpenting bagi tumbuhan dalam melangsungkan hidupnya karena tumbuhan adalah organisme autotrof obligat, ia harus memasok kebutuhan energinya sendiri melalui konversi energi cahaya menjadi energi kimia. Bentuk daun sangat beragam, namun biasanya berupa helaian, bisa tipis atau tebal. Gambaran dua dimensi daun digunakan sebagai pembeda bagi bentuk-bentuk daun. Bentuk dasar daun membulat, dengan variasi cuping menjari atau menjadi elips dan memanjang. Bentuk ekstremnya bisa meruncing panjang. Daun juga bisa bermodifikasi menjadi duri (misalnya pada kaktus), dan berakibat daun kehilangan fungsinya sebagai organ fotosintetik. Daun tumbuhan sukulen atau xerofit juga dapat mengalami peralihan fungsi menjadi organ penyimpan air.
Fungsi umum daun, yaitu sbb:
- Tempat berlangsungnya fotosintesis
- Tempat menyimpan bahan makanan
- Pada tumbuhan tertentu sebagai alat perkembangan vegetatif
- Alat evaporasi (penguapan)
- Respirasi (melalui stomata)
- Menyerap energi cahaya matahari
Anatomi daun dapat dibagi menjadi 3 bagian :
- Epidermis. Epidermis merupakan lapisan terluar daun, ada epidermis atas dan epidermis bawah, untuk mencegah penguapan yang terlalu besar, lapisan epidermis dilapisi oleh lapisan kutikula. Pada epidermis terdapat stoma atau mulut daun, stoma berguna untuk tempat berlangsungnya pertukaran gas dari dan ke luar tubuh tumbuhan. Epidermis berfungsi untuk pengambilan nutrisi dari dalam air dan untuk pertukaran gas. Pada banyak tumbuhan air, epidermis berklorofil, kutikula tipis, stomata umumnya tidak ada. Pada tumbuhan air yang terapung letak stomata pada permukaan atas. Daun yang terendam air termodifikasi menjadi bentuk silindris untuk meminimalkan arus air yang melewati daun mencegah koyaknya daun.
- Parenkim/Mesofil. Parenkim daun terdiri dari 2 lapisan sel, yakni palisade (jaringan pagar) dan spons (jaringan bunga karang), keduanya mengandung kloroplast. Jaringan pagar sel-selnya rapat sedang jaringan bunga karang sel-selnya agak renggang, sehingga masih terdapat ruang-ruang antar sel. Kegiatan fotosintesis lebih aktif pada jaringan pagar karena kloroplastnya lebih banyak daripada jaringan bunga karang. Letak palisade tepat dibawah epidermis pada sisi adaksial disebut daun dorsiventral atau bifacial. Sedangkan pada tumbuhan xerofit pada kedua sisi daun palisade disebut daun isobilateral. Parenkim spons berbentuk isodiametris atau memanjang sejajar permukaan daun. Fungsi untuk penyimpan gula dan asam amino yang di sintesis di lapisan palisade, membantu pertukaran gas. Pada siang hari terdapat sel-sel spons yang mengeluarkan O2 dan uap air ke lingkungan dan mengambil CO2 dari lingkungan.
- Jaringan Pembuluh. Jaringan pembuluh terletak pada jaringan spons. Jaringan pembuluh pada daun merupakan kelanjutan dari jaringan pembuluh pada batang. Ada dua jenis pembuluh yaitu Pembuluh Kayu (xylem) yang berperan untuk mengangkut air dan mineral yang diserap akar dari tanah menuju daun dan Pembuluh Tapis (floem) yang berperan untuk mengangkut hasil fotosintesis ke seluruh bagian tumbuhan. Pada tumbuhan dikotil, terdapat kambium yang membatasi pembuluh kayu dan pembuluh tapis. Tapi pada tumbuhan monokotil, tidak terdapat kambium yang membatasi pembuluh kayu dan pembuluh tapis. Akibat adanya kambium, memungkinkan batang tumbuhan dikotil bertambah lebar dan terbentuknya lingkaran tahun pada batang.
Daun juga bisa bermodifikasi menjadi duri (misalnya pada kaktus), dan berakibat daun kehilangan fungsinya sebagai organ fotosintetik. Daun tumbuhan sukulen atau xerofit juga dapat mengalami peralihan fungsi menjadi organ penyimpan air. Daun tua telah kehilangan klorofil sebagai bagian dari penuaan.
Ikatan pembuluh daun disebut tulang daun. Pada daun bertulang jala umumnya terrdapat satu ibu tulang daun di tengah dan akan bercabang-cabang menjadi lebih kecil. Pada daun bertulang sejajar terdapat beberapa tulang daun yang sama tebalnya, dan letaknya sejajar panjang daun dan bertemu di ujung distal. Tulang daun tengah dapat mempunyai ikatan pembuluh besar atau dapat pula terpisah menjadi beberapa ikatan pembuluh kecil. Di sebelah atas dan bawah jaringan pembuluh itu terdapat parenkim yang sering disertai oleh kolenkim di tepi. Penambahan jaringan seperti itu mengakibatkan tulang daun tengah itu agak tersembul di atas permukaan helai daun. Ikatan pembuluh kecil dalam mesofil dikelilingi oleh satu atau dua lapis sel tersusun rapat yang bersama-sama membentuk seludang pembuluh.
Ikatan pembuluh daun disebut tulang daun. Pada daun bertulang jala umumnya terrdapat satu ibu tulang daun di tengah dan akan bercabang-cabang menjadi lebih kecil. Pada daun bertulang sejajar terdapat beberapa tulang daun yang sama tebalnya, dan letaknya sejajar panjang daun dan bertemu di ujung distal. Tulang daun tengah dapat mempunyai ikatan pembuluh besar atau dapat pula terpisah menjadi beberapa ikatan pembuluh kecil. Di sebelah atas dan bawah jaringan pembuluh itu terdapat parenkim yang sering disertai oleh kolenkim di tepi. Penambahan jaringan seperti itu mengakibatkan tulang daun tengah itu agak tersembul di atas permukaan helai daun. Ikatan pembuluh kecil dalam mesofil dikelilingi oleh satu atau dua lapis sel tersusun rapat yang bersama-sama membentuk seludang pembuluh.
Ada beberapa fungsi atau manfaat daun bagi tumbuhan, antara lain :
Tempat Terjadinya Fotosintesis. Fotosintesis adalah suatu proses biokimia pembentukan zat makanan atau energi yaitu glukosa yang dilakukan tumbuhan, alga, dan beberapa jenis bakteri dengan menggunakan zat hara, karbondioksida, dan air serta dibutuhkan bantuan energi cahaya matahari.
Sebagai Organ Pernapasan atau Respirasi. Stomata berfungsi sebagai organ respirasi. Stomata mengambil CO2 dari udara untuk dijadikan bahan fotosintesis, mengeluarkan O2 sebagai hasil fotosintesis. Stomata ibarat hidung kita dimana stomata mengambil CO2 dari udara dan mengeluarkan O2, sedangkan hidung mengambil O2 dan mengeluarkan CO2. Stomata terletak di epidermis bawah. Selain stomata, tumbuhan tingkat tinggi juga bernafas melalui lentisel yang terletak pada batang.
Tempat Terjadinya Transpirasi. Transpirasi adalah hilangnya uap air dari permukaan tumbuhan.
Tempat Terjadinya Gutasi. Gutasi adalah proses pelepasan air dari jaringan daun dalam bentuk cair. Gutasi terjadi melalui lubang-lubang pengeluaran yang terdapat pada bagian tepi daun sebagai bagian dari proses pengeluaran kelebihan air sebagai sisa metabolisme, khususnya pada saat pengeluaran dengan cara transpirasi (penguapan) tidak efektif, misalnya pada malam hari. Gutasi dapat diamati pada pagi hari dan dapat disalahartikan sebagai embun. Ia terlihat sebagai tetes-tetes air di tepi daun yang tersusun teratur, sesuai dengan lokasi lubang pengeluaran.
Alat Perkembangbiakkan Vegetatif. Reproduksi vegetatif adalah cara reproduksi makhluk hidup secara aseksual (tanpa adanya peleburan sel kelamin jantan dan betina). Reproduksi vegetatif bisa terjadi secara alami maupun buatan. Perkembangbiakan dengan membelah diri biasanya terjadi pada hewan tingkat rendah, bersel satu (protozoa), misalnya : amoeba dan paramaecium. Pembelahan diri biner jika terjadi pembelahan individu menjadi 2 individu baru, dan disebut pembelahan diri multipel (perkembangbiakan dengan spora) jika pembelahan individu menjadi banyak individu, misalnya: plasmanium.
Sebagai Organ Pernapasan atau Respirasi. Stomata berfungsi sebagai organ respirasi. Stomata mengambil CO2 dari udara untuk dijadikan bahan fotosintesis, mengeluarkan O2 sebagai hasil fotosintesis. Stomata ibarat hidung kita dimana stomata mengambil CO2 dari udara dan mengeluarkan O2, sedangkan hidung mengambil O2 dan mengeluarkan CO2. Stomata terletak di epidermis bawah. Selain stomata, tumbuhan tingkat tinggi juga bernafas melalui lentisel yang terletak pada batang.
Tempat Terjadinya Transpirasi. Transpirasi adalah hilangnya uap air dari permukaan tumbuhan.
Tempat Terjadinya Gutasi. Gutasi adalah proses pelepasan air dari jaringan daun dalam bentuk cair. Gutasi terjadi melalui lubang-lubang pengeluaran yang terdapat pada bagian tepi daun sebagai bagian dari proses pengeluaran kelebihan air sebagai sisa metabolisme, khususnya pada saat pengeluaran dengan cara transpirasi (penguapan) tidak efektif, misalnya pada malam hari. Gutasi dapat diamati pada pagi hari dan dapat disalahartikan sebagai embun. Ia terlihat sebagai tetes-tetes air di tepi daun yang tersusun teratur, sesuai dengan lokasi lubang pengeluaran.
Alat Perkembangbiakkan Vegetatif. Reproduksi vegetatif adalah cara reproduksi makhluk hidup secara aseksual (tanpa adanya peleburan sel kelamin jantan dan betina). Reproduksi vegetatif bisa terjadi secara alami maupun buatan. Perkembangbiakan dengan membelah diri biasanya terjadi pada hewan tingkat rendah, bersel satu (protozoa), misalnya : amoeba dan paramaecium. Pembelahan diri biner jika terjadi pembelahan individu menjadi 2 individu baru, dan disebut pembelahan diri multipel (perkembangbiakan dengan spora) jika pembelahan individu menjadi banyak individu, misalnya: plasmanium.
Diposting oleh
Unknown
di
18.54
0
komentar
Label: AGRYCULTURE
Langganan:
Postingan (Atom)






